Sabtu, 23 Desember 2017

Bicara Soal Hati

Sakit..
Karena dia, yang kau istimewakan

Sakit..
Karena dia, yang kau pedulikan

Sakit..
Karena dia, yang kau bela

Sakit..
Karena dia, yang tidak tahu bahwa dia penyebabnya

Sakit..
Sakit..
Sakiiiiiiiit..
Karenamu, air mata terbuang sia-sia

Senin, 27 November 2017

Egois Untuk Kebaikan

Dalam suatu agama pernah disebutkan bahwa "Jangan pernah bergantung kepada manusia". Betul gue rasa, karena kalau kita terus bergantung lalu suatu waktu orang itu tidak bisa, kita akan sakit hati.
Pengalaman gue justru sebaliknya. Gue termasuk orang yang enggan banget minta tolong sama orang lain, tapi kalo orang lain minta tolong justru gue welcome, itu pun kalo guenya mampu. Mungkin karena dulu gue sering bergantung sama orang, makanya gue sering sakit hati sehingga kesakitan itu mengubah mindset gue. Kalo gue sekalinya minta tolong sama orang tuh rasanya itu merupakan dosa besar bagi gue. Padahal sebetulnya wajar aja yaa, malah akan jadi pahala bagi yang menolongnya. Tapi entah lah gue tuh enggan banget. Sama halnya kaya "Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah".
Tapi itu semua menurut gue banyak hal positifnya. Positifnya adalah gue jadi punya pikiran "harus bisa sendiri". Jadi saat gue minta tolong sama orang terus ga ada banget yang bisa nolongin, gue berinisiatif serta termotivasi "harus bisa" dan itu menjadi kebiasaan gue terus-menerus. Gak jarang gue nemu orang yang terus aja gue suapin, sekalinya gue ga bisa nolong, orang itu marah. Banyak ngelus dada dahhh gue ujungnya. Dan terkadang orang pun sering banget ngeliat satu titik hitam daripada banyaknya kertas putih. Artinya adalah orang sering fokus pada satu keburukan daripada seribu kebaikan. Kalo gue nemu orang kaya gitu sih woles aja. Karena apa? Biasanya orang kaya gitu lama-lama bakal dateng lagi ke kita, karena dia butuh. Makanya gue punya pikiran harus bisa tuh agar gue bisa dibutuhkan selagi orang lain gak bisa. Tapi gue juga mesti pinter-pinter nolong orang. Loh kok nolong mesti pilih-pilih nit? Ya karena zaman sekarang banyak sekali orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain, sehingga dapat merugikan diri gue sendiri. Mudah-mudahan aja agan sista sekalian bukan orang seperti itu yaa hehe.
Selain itu hal positif selanjutnya adalah gue jadi dipandang sebagai cewek strong atau kuat. Bukan kuat bisa ngangkat baja juga loh yaa. Kuat dalam artian apa-apa bisa dilakukan sendiri dan berani melakukan hal yang belum tentu orang lain lakukan. Karena apa yaa, gue tuh kadang merasa gak puas kalo minta tolong ke orang. Dan gue tuh punya pendirian bahwa orang lain bisa, kenapa gue engga?! Jadi, gue itu sebelum minta tolong ke orang, harus gue dulu yang coba, sampai bener-bener gue gak mampu, baru gue berani minta tolong ke orang lain. Dan setelahnya kadang gue belajar sama orang itu gimana caranya. Biar nantinya kalo ada hal seperti itu lagi, gue bisa atasi sendiri dan siapa tau ada orang yang minta pertolongan seperti itu, gue jadi bisa bantu juga kan.
Nah, kalo kasusnya kaya gue gini mungkin gak yaa disebut egois? Gue rasa egois disini positif. Positifnya karena gue masih peduli sama orang lain. Apa kalian punya pendirian sama kaya gue?!

Sabtu, 14 Oktober 2017

Anak Muda Zaman Millennial

 Pernah aku membenci senja
Karena setelahnya akan ada kegelapan
Senja telah memberiku banyak pelajaran
Dari senja, aku mengerti kata rela

Pernah denger quotes itu? Itu salah satu quotes yang gue copy dari artikel entah siapa lupa penulisnya, sorry gak gue cantumin hehe. Ya, sebetulnya hati gue langsung baper ketika liat kata-kata itu. Karena menggambarkan suasana hati gue. Memang benar, dari senja gue jadi banyak pelajaran bahwa tidak selamanya kita akan bersama dengan orang yang kita sayang. (Hah KITA?!)
Ada kalanya senja itu harus tenggelam dan merelakannya. Kalian tau kan dunia itu berputar? Hidup kalian pun ada kalanya di atas dan di bawah. Begitu pun hati, hati itu seperti telapak tangan yang mudah dibolak-balik dan tentunya atas campur tangan semesta. Jadi, buat lo yang sekarang lagi sayang sama seseorang, bisa aja suatu saat hati lo berubah. Tapi memang gue percaya akan adanya cinta sejati. Karena seberapa lo cinta atau benci sama seseorang, jika emang itu takdir lo, maka itulah yang disebut JODOH.
Hal yang mendasari gue berbicara soal cinta selain karena pengalaman adalah karena keresahan gue melihat kisah cinta anak muda zaman millennial ini. Ya, lo pasti ga akan aneh ngeliat kids zaman now udah pada pake gawai (read: gadget). Apa emang hubungannya cinta dan gawai? Gawai memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain. Khususnya berkomunikasi dengan si doi. Bukan zamannya lagi kirim-kirim salam pake surat, apalagi kirim-kirim salam lewat radio haha (tapi yang ini si doi masih suka). Teknologi diciptakan untuk memudahkan kita. Apalagi yang merasa LDR pasti lengket sama yang namanya HP. Sekalinya si doi lama banget gak bales, curiganyaaa kebangetan. Tapi kalo yang udah saling percaya tenang aja sih yessss. Tak sedikit pula orang-orang menyalahgunakan teknologi yang satu ini. Yang sudah memiliki kekasih mohon hati-hati kalo si doi nya punya simpanan. Yaa kali kalo si doi setia, gak suka jajan di luar haha julid yaa gue. Bahkan yang lebih mirisnya lagi saat gue liat berita yang lagi viral mengenai aplikasi nikahsirridotkom itu tuh ternyata peminatnya sampe ribuan orang. Tapi untung orang yang buat aplikasi itu akhirnya udah tercyduk aparat. Jadi tenang yaa gaissss!
Artinya apa? Bahwa saat ini tak sedikit pasangan yang menikah atau menjalin hubungan tidak didasari dengan kasih sayang, melainkan hawa nafsu. Akibatnya apa? Diluar sana jadi banyak sekali wanita-wanita yang tersakiti, ujungnya adalah jadi single mom. Bahkan katanya sekarang itu 'Janda Semakin di depan'. Maap ni yeee bukannye gue mau nyinyir sama jendes-jendes, gue justru menghargai kalian bahkan menyayangkan sekali dengan maraknya laki-laki hidung belang. Meski gak semua perceraian diakibatkan oleh laki-laki atau bahkan sebaliknya(perempuan), yang pasti gue menyayangkan jika perceraian itu dikarenakan adanya orang ketiga. Dan yang paling miris adalah jika pasangan yang memutuskan untuk bercerai itu berasal dari kalangan anak muda. Tuhan memang adil, jika suatu hubungan dilakukan dengan cara yang tidak sehat, maka kerugian dan penyesalan akan datang padanya. Meski gue tau di luar sana ada pula yang memilih untuk jadi single parents, hidupnya bahkan lebih baik dan sukses. Yaa gue pikir itu pun karena adanya usaha untuk jadi orang yang lebih baik. So, Tuhan itu Maha Baik. Kalo lo niat untuk minta maaf dan menyesal serta ga akan ngelakuin hal buruk lagi, inshaAlloh Tuhan memaafkan lo.
Itulah keresahan gue ngeliat anak muda zaman millennial. Tinggalkanlah kalo membuat lo jadi gak baik, iyeee tau deh lo sayaaang banget. Tapi, coba deh belajar ikhlas. Dari sekarang mulai ubah pola pikir lo dan cari temen yang bisa membawa lo ke jalan yang benar. Dari temen itu lo akan belajar banyak. Bukan maksudnya temen-temen lo yang dulu gak baik lohh yaaa. Tapi coba untuk tidak terlalu berpartisipasi aktif dengan mereka yang sekiranya membuat diri lo jadi lebih buruk. Ingat orang tua, cobalah lebih sering berkomunikasi sama orang tua daripada pacar yang belum tentu jadi jodoh lo. Ingat bahwa lo dilahirkan dengan harapan jadi orang yang berguna. Mana ada orang tua yang melahirkan terus anaknya didoain jadi maling kan?! Gue yakin orang tua lo akan seneng kalo lo jadi anak sholeh dan sholehah. Pasti deh itu akan membawa jalan menuju surga. Karena sebuah profesi itu hanya titipan di dunia aja. Ingat aja bahwa tujuan hidup lo hanya demi orang tua, bukan demi si dia yang belum tentu jadi jodoh lo. Kalo lo nurut sama orang tua dan berusaha jadi lebih baik, pasti jodoh lo juga baik. Karena jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri.

Gue pun berkaca dari diri sendiri, bahwa yang selalu di hati belum tentu baik. Jika Tuhan menyuruhmu untuk merelakan ya relakanlah. Mungkin Tuhan menyimpan si dia untukku hingga waktunya tiba. Namun jika tidak, Tuhan pasti akan memberi yang lebih baik.

Jumat, 13 Oktober 2017

Kata

Banyak rasa yang ingin ku ungkap
Tapi sulit bagiku merangkai kata
Padahal hanya sebuah kata

Bagiku kata itu kejam
Tapi kadang buatku bahagia
Padahal hanya sebuah kata

Meski mulutku telah dibelenggu
Ekspresi jiwa bagimu tak cukup
Bila tanpa diungkap oleh kata
Padahal hanya sebuah kata

Dengan kata, buatmu lebih berharga
Kata pun, bisa buatmu terluka
Layaknya manusia...
Kata pun bukan makhluk sempurna

Meski begini...
Karena katamu, aku jadi ingin berkata.