Senin, 07 April 2014

Cinta Benar – Benar Buta


Suatu hari terdapat seorang wanita cantik bernama Caroline. Dia merupakan turunan dari orang kaya. Perusahaan orangtuanya sudah berada dimana-mana. Bahkan karyawannya pun sudah tak terhitung jumlahnya. Caroline sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Meskipun dia merupakan anak kedua dari dua bersaudara, tak heran bila keinginannya selalu dipenuhi karena dia anak bungsu. Kakak Caroline adalah seorang laki-laki yang tampan. Dia bernama Anggara. Usia Anggara tidak berbeda jauh dengan Caroline. Mungkin sekitar berbeda 5 tahun. Dan sekarang Caroline baru berusia 16 tahun. Meskipun dia adalah anak dari orang kaya, tetapi dia tidak bersekolah di sekolah elite. Melainkan bersekolah disekolah yang sederhana dengan murid-murid yang berpenampilan sederhana juga.
          Pada suatu hari, Caroline berangkat ke sekolah. Dia selalu diantar oleh papanya sekalian langsung berangkat ke kantor. Di sekolahnya, Caroline memang selalu menjadi pusat perhatian para lelaki. Maka tak aneh apabila Caroline banyak fansnya. Namun tak sedikit juga ada orang yang menjadi haters Caroline. Dan kebanyakan haters tersebut berasal dari kaum wanita. Ya mungkin mereka sangat sirik kepada wanita cantik itu. Dilihat dari penampilannya Caroline memang sangat modis. Kadang setiap seminggu sekali Caroline selalu pergi ke salon bersama mamanya. Tetapi dibalik itu semua sifatnya Caroline terlihat pendiam. Namun apabila yang sudah akrab dengannya Caroline orangnya sangat cerewet. Memang dia selalu membuat penasaran orang saja. Disekolahnya dia merupakan murid yang cerdas, tapi tidak terlalu cerdas. Ya sedang sedang saja mungkin. Setiap tugas yang diberikan oleh gurunya dia selalu mengumpulkannya tepat waktu.
          Saat pulang sekolah, tiba-tiba Caroline tidak ada yang menjemput. Terpaksa dia harus menaiki transportasi umum. Dan itu adalah hal sangat menjengkelkan bagi Caroline. Karena dia sangat tidak suka dengan polusi udara yang kotor apalagi panasnya udara yang ada didalam bus. Hampir satu jam Caroline menunggu di halte bus. Dan mood Caroline sudah mulai berbeda. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki sederhana yang terlihat lumayan tampan dengan kendaraan motor vespa antiknya. Dia melihat Caroline dari jauh dan langsung mendekatinya. Dan sepertinya laki-laki itu merupakan murid dari sekolahyang sama dengan Caroline.
“Hai, kamu lagi ngapain?” tanya laki-laki itu.
“Keliatannya lagi ngapain? Masa lagi nyuci baju”. Jawab Caroline dengan dingin.
“Oh, mau anter aku pulang ga?”
“Mmm, boleh deh daripada nunggu lama disini daritadi”.
Tanpa berpikir panjang Caroline pun menerima tawaran dari laki-laki tersebut. Padahal Caroline sendiri tidak kenal dengan orang itu. Namun, Caroline percaya dengan laki-laki itu karena melihat logo seragam yang sama dengan Caroline. Diperjalanan mereka berdua akhirnya asyik mengobrol.
“Kamu anak SMAN 1 juga?” tanya Caroline.
“Keliatannya anak mana? Masa anak monyet” jawab laki-laki itu dengan nada bercanda.
“Ihh, nyebelin banget sih! Kayanya bales dendam gara-gara tadi nih”.
“Hehehe, engga ko bercanda.. eh iya ngomong-ngomong kita belum kenalan, nama kamu siapa?”
“Namaku Caroline, nama kamu?”
“Aku Dimas, tapi jangan panggil aku mas ya..”
“Lah emang kenapa kalo panggil mas?”
“Soalnya nanti aku dikira mas tukang baso lagi”
“Hahahaha... garing !” ucap Caroline sambil tertawa.
“Nah loh, garing tapi ko ketawa?”
“Terserah gue dong “
“Ah kamu nih bercanda aja...”
Diperjalanan mereka berdua asyik bercanda, dan sampai akhirnya Dimas sampai didepan rumah Caroline. Dengan basa-basi Caroline mengajak Dimas mampir ke rumahnya dulu. Namun Dimas menolaknya karena harus buru-buru pulang kerumah.
          Sampai dirumah Caroline langsung masuk kedalam kamar dan beristirahat di kasurnya yang empuk. Sambil dia membayangkan sosok lelaki yang sudah mengantarkannya sampai rumah. Dan tak sadar dia sampai berbicara sendiri.
“Cowo yang tadi tuh ya kalo dipikir-pikir ganteng juga, lucu lagi, kayanya dia tuh orangnya humoris, pas banget kalo aku lagi sedih bisa dihibur sama dia.”
Disaat Caroline sedang membayangkan tiba-tiba teriakan mamanya mengganggu bayangan Caroline. Sontak Caroline langsung kaget karena telah diganggu oleh teriakan mamanya. Dan ternyata mamanya hanya menyuruh Caroline untuk makan.
          Saat malam tiba, sudah tak aneh Caroline melihat kakaknya yang bernama Anggara setiap malam sibuk dengan skripsinya. Dan terkadang Anggara selalu begadang hanya untuk mengerjakan tugas akhirnya itu. Karena bulan Juni ini Anggara akan wisuda. Mamanya berharap kalau Caroline nanti sudah lulus sekolah akan seperti Anggara. Anggara selain lelaki yang tampan, dia juga sangat pintar. Maka tak salah apabila dia masuk fakultas ilmu pemerintahan di salah satu universitas negeri disana. Kalau masalah percintaannya terkadang suka tertutup. Maka jarang sekali Anggara bercerita kepada Caroline. Sebaliknya juga dengan Caroline. Terkadang suatu ketika Caroline suka berpikir ingin mempunyai seorang kakak perempuan. Karena Caroline ingin sekali menyurahkan hatinya  kepada kakaknya. Sekali-kali Caroline juga suka curhat kepada mamanya, namun terkadang mamanya itu yang ada selalu mengatur-ngatur Caroline. Jadi jika Caroline ingin curhat lagi terkadang menjadi canggung.
          Malam itu Caroline duduk santai dengan tv didepannya. Tiba-tiba handphonenya pun berbunyi dan dilihat ada sms dari nomor yang tak dikenalnya. Isi sms tersebut isinya tidak penting, hanya ingin berkenalan saja. Dan Caroline pun tidak membalas sms tersebut. Caroline pun pergi ke kamar mandi karena cuaca sangat dingin sehingga dia ingin buang air kecil. Dan ketika kembali lagi, tiba-tiba dilihat handphonenya sudah ada 3 panggilan tak terjawab. Dilihatnya ternyata nomor yang tadi sms Caroline. Setelah ditunggu-tunggu lagi, ternyata nomor tersebut tidak menelpon lagi.
          Keesokan harinya disekolah, saat Caroline memasuki ruang kelas tiba-tiba ada yang memanggil Caroline. Dan ternyata dia adalah Dimas. Dengan muka yang sedikit bete Dimas pun menghampiri Caroline.
“Hey, kenapa mukamu keliatan kusem kaya gitu?” tanya Caroline.
“Bete banget sama kamu tau “
“Hah? Ko sama aku sih? Emang aku punya salah sama kamu?”
“Iya, kemarin aku sms kamu terus sama kamu ga dibales! Ehh, pas aku nelpon ga diangkat-angkat, malah sampe 3 kali aku nelpon” ucap Dimas dengan raut wajah yang kecewa.
“Ohh, jadi yang kemarin itu kamu toh? Hahaha ya maaf deh, aku gatau” jawab Caroline dengan polosnya.
“Ga tau ahh, aku mau pundung ga di maafin”
“Dih sebel gitu , mana ada cowo pundungan kaya cewe aja nih hahaha”
“Ya abisnya kamu kaya gitu sih”
Dan pada akhirnya Caroline pun menjelaskan semuanya kepada Dimas. Dan akhirnya mereka pun damai kembali. Tiba-tiba Dimas pun mengajak Caroline ke taman sekolah karena Dimas ingin berbincang-bincang bersama Caroline. Seperti biasa, Dimas selalu membuat tertawa Caroline dengan sikapnya yang konyol itu. Caroline baru sadar ternyata Dimas itu adalah kakak kelasnya. Kini Dimas kelas 3 SMA dan sebentar lagi dia akan lulus.
          Pulang sekolah, Dimas sudah siap-siap dengan vespanya yang antik itu. Dia sedang menunggu Caroline. Akhirnya Caroline pun sudah bubar dan langsung menghampiri Dimas. Tiba-tiba Dimas mengajak Caroline pergi menonton. Akhirnya merekapun pergi bersama. Dimas orangnya memang sederhana dan misterius. Bahkan Caroline pun tak tahu latar belakang dia bagaimana. Ya mungkin karena Caroline belum kenal terlalu dekat.
          Ketika akan memasuki gedung bioskop tiba-tiba Caroline bertemu dengan teman sebangkunya yang bernama Memey. Memey juga pergi dengan salah satu lelaki, namun lelaki itu pacarnya Memey. Dan ketika Memey melihat lelaki disamping Caroline itu tiba-tiba dia kaget. Dan Memey pun langsung membisiki Caroline sambil bertanya.
“Kamu ga salah pergi sama dia?” tanya Memey.
“Lah emang kenapa kalo aku pergi sama dia? Kamu cemburu ya, apa jangan-jangan kamu suka lagi, hayo ngaku” jawab Caroline sambil berbisik-bisik.
“Ih apaan ngapain cemburu, aku juga punya cowo kali, yaudah nanti besok aku ceritain deh sama kamu”
“Yaudah oke fix!”
Setelah mereka berpapasan akhirnya Caroline dan Memey pun berpisah. Ketika Caroline dan Dimas sedang mengantri tiket, tiba-tiba Dimas lupa membawa uang lebih. Dan dengan polosnya Dimas berkata kepada Caroline bahwa dia ingin meminjam uang dulu kepada Caroline. Saat itu adalah saat yang paling memalukan bagi Dimas, karena dengan apesnya Dimas lupa membawa uang lebih. Namun karena Caroline sangat baik dia ikhlas meminjamkan uangnya tanpa harus diminta ganti. Ya itung-itung menraktir Dimas.
          Mereka berdua asyik menonton film horor yang pada saat itu sedang hits yaitu film “Insidious”. Filmnya memang sangat menegangkan. Namun pada saat itulah Dimas memanfaatkan moment tersebut. Caroline memang tipe cewe yang agak penakut. Maka sekali-kali ketika ada adegan yang menegangkan dia selalu bersembunyi dibalik bahu Dimas dan mencengkram erat tangan Dimas. Dimas hanya tertawa kecil melihat Caroline ketakutan. Kadang-kadang Caroline juga terlihat marah karena moment tersebut adalah kesempatan bagi Dimas. Mereka berdua memang selayaknya seperti adik dan kakak. Setiap hari mereka terlihat sering bertengkar tapi beberapa saat pun damai lagi. Makanya banyak sekali lelaki yang iri dengan Dimas ketika bersama dengan Caroline. Padahal banyak lelaki yang lebih dari Dimas. Namun entah apa yang ada dibenaknya Caroline untuk lebih memilih Dimas.
          Film bioskop pun telah usai. Mereka berdua segera keluar dari gedung bioskop. Tiba-tiba Dimas menarik Caroline dan cepat-cepat menuju ke parkiran menaiki vespa antiknya itu. Sambil menuju ke arah yang tak jelas tujuannya, Dimas sengaja menutupi mata Caroline dengan kain bermotif batik yang kadang suka dipakai shall oleh Dimas. Caroline pun bingung dia akan dibawa kemana dan ingin membuka kain yang menutupi matanya itu. Namun Dimas melarang untuk membukanya.
          Tercium aroma kesegaran, terdengar bunyi-bunyi kicauan burung yang sangat indah. Namun masih saja Caroline tidak bisa melihat suasananya seperti apa. Dimas pun segera memapahkan Caroline ke tempat duduk. Dan dibukanya kain penutup mata tersebut. Dilihatnya sebuah taman yang sangat indah, dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan kolam dengan air mancur. Sepertinya taman tersebut tidak banyak dikunjungi orang. Seperti taman milik mereka berdua saja. Caroline bahkan tak tahu dan baru pertama kali mengunjungi taman itu. Ditengah-tengah kota Jakarta yang begitu pengap dan berpolusi, namun bisa terobati dengan udara taman yang begitu sejuk itu. Dimas memang paling pintar memilih tempat yang pas untuk merefreshkan otak.
          Dibalik sifatnya yang cuek dan senang bercanda, Dimas tiba-tiba berubah menjadi seorang yang romantis. Ketika sampai disana dan duduk berdua, Dimas memang masih sempat bercanda dengan gombalan-gombalan klasiknya itu. Namun disaat serius, Dimas tanpa basa-basi mengungkapkan isi hatinya kepada Caroline.
“Caroline, kalo boleh jujur sebenernya aku tuh suka sama kamu bahkan sayang, tapi rasa sayang ini berbeda. Bukan rasa sayang sebagai teman ataupun sebagai adik. Tapiiiii...”
“Tapi apa?”
Dan dengan to the point Dimas pun berkata. “Aku jatuh cinta sama kamu, kamu mau kan jadi pendamping hidup aku?”
“Haaah? Pendamping hidup? Hahaha... jangan banyak bercanda deh lo, ini pasti akal-akalan bodoh kamu lagi, kebanyakan nonton sinetron sih! Lebay kan jadinya”
“Caroline aku serius!” ucap Dimas dengan nada tegas.
“Kamu seriusan? Ga bercanda?”
“Emang muka aku keliatan muka bercanda?” sambil mengangkatkan sebelah halisnya dan matanya pun sangat tajam menatap Caroline.
“Mmmm.. engga sih. Duh aku bingung harus jawab apa” Caroline mulai gugup dan salah tingkah.
“Ga usah bingung, tinggal jawab iya apa engga! Ikuti apa kata hati kamu aja”
“Hati aku sih bilang iya aku juga cinta..”
“Jadi?”
“Ya apa boleh buat, aku ikuti kata hati aku aja. Kan kamu bilang begitu”
Dimas pun berpikir keras dan tanpa disadari Caroline telah menerima cintanya Dimas. Dimas pertama kali merasakan bahagia yang begitu luarbiasa. Dia tak menyangka bahwa Caroline akan menerima cintanya. Mulai saat itulah akhirnya mereka jadian. Kini hari-hari mereka akan menjadi lebih indah. Karena kini mereka mempunyai status baru.
          Esoknya pada saat disekolah. Memey ingat dengan janjinya bahwa dia akan menceritakan seuatu kepada Caroline.
“Eh Mey, kemaren mau ngomong apa sih? Bikin penasaran aja”
“Oh iya itu tentang Dimas, tau ga sih lo? Dimas tuh ternyata cuman anak tukang dagang sayuran dipasar doang”
“Ya terus kenapa?” tanya Caroline dengan wajah sinis.
“Yaelah, kamu kaya yang gak tahu orang tua kamu aja, ya pasti mereka ga akan setuju lah kamu deket sama dia. Secara gitu orang tua kamu pasti nyariin cowo buat kamu itu yang mapan, yang bermobil, yang banyak duitnya. Apalagi kalo kamu sampe pacaran,meskipun tampang dia emang ganteng tapi engga bangetlah”
“Terus kalo misalnya emang beneran udah pacaran gimana?”
“What? Seriusan lo udah pacaran? Aduh.. apa kata dunia? Fans-fans kamu nanti pada kecewa, terus nanti ga akan ngefans lagi sama kamu, terus aku ga jadi ikutan terkenal lagi disekolah ini. Aduuuhh...”
Memey orangnya memang lebay. Selain dia baik, namun dia setia kawan kepada Caroline. Setiap senang maupun sedih, Memey selalu ada untuk Caroline. Meskipun terkadang Memey bingung memlilih antara sahabat dan pacar, tapi dia paling pintar membagi waktunya antara sahabat dan pacar. Selain itu juga Memey orangnya sangat dewasa dalam berpikiran.
“Udah lah Mey, ga usah khawatir. Ini adalah pilihanku. Masalah senang atau susah itu gimana nanti, karena ini udah resiko.”
“Yaudah oke fix, Memey sekarang ngerti. Bukan maksud aku buat ngatur-ngatur kamu ko, tapi aku cuma ngingetin aja, takutnya orang tua kamu begitu kan. Aku sih setuju aja kamu mau pacaran sama siapapun, itu hak kamu. Dan aku pasti dukung terus.”
“Iya sih mey, tapi terimakasih banyak ya. Kamu udah ngertiin aku”
          Mendengar nasihat dari Memey, Caroline pun menjadi bingung. Dan dia berpikir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Memey. Akhirnya Caroline pun membicarakan masalah itu dengan Dimas. Dimas juga mengerti dan tahu benar tentang keluarga Caroline. Oleh karena itu akhirnya Dimas memilih berpura-pura menjadi tipe orang yang diinginkan orang tua Caroline. Ya, berpua-pura menjadi anak orang kaya.
          Sebelumnya Caroline belum pernah mengajak Dimas ke rumahnya. Dan pada suatu hari, Caroline pun mengajak Dimas ke rumahnya. Orang tua Caroline memang sangat ramah kepada siapapun. Namun ya begitulah, orang tua Caroline sangat material. Seperti biasa, Dimas menaiki vespa antiknya itu. Dengan heran, mama Caroline bertanya-tanya mengapa dia menaiki vespa butut itu? Mengapa tidak menaiki mobil? Tetapi, ada saja alasan dari Dimas, dia menjawab bahwa dia memang suka mengoleksi barang-barang antik yang mahal, dan dia juga bosan menaiki mobil mewah. Mama Caroline percaya-percaya saja, karena tampang muka Dimas itu memang meyakinkan anak orang kaya.
          Semakin hari, Dimas dan Caroline semakin romantis. Kedekatan Dimas dan keluarga Caroline pun semakin akrab. Begitu juga dengan Caroline, dia juga akrab dengan keluarga Dimas. Saat itu, Dimas sudah lulus sekolah. Dan Caroline kini menginjak kelas 3 SMA. Setelah lulus, Dimas tidak melanjutkan kemana-mana. Karena orang tuanya tidak mempunyai biaya, akhirnya Dimas pun lebih memilih berdiam diri saja, tapi terkadang membantu orang tuanya juga dipasar. Meskipun dengan keadaan Dimas seperti itu, Caroline tetap menerima Dimas apa adanya.
          Saat itu Anggara sudah lulus kuliah, dan dia menikah dengan seorang istri yang cantik yang dulu dia suka saat dikampus. Kini mereka hidup bahagia dan tinggal di Amerika karena Anggara harus melanjutkan S2 disana bersama istrinya. Mama Caroline selalu berharap Caroline bisa seperti kakaknya. Setahu mamanya, Dimas sekarang ini bekerja di perusahaan milik papanya. Padahal semua itu hanya rekayasaan Dimas dan Caroline.
          Dicuaca yang sangat panas, mama Caroline ingin sekali makan sayuran yang segar. Sayangnya pada saat itu, pembantu dirumahnya sedang pulang kampung. Terpaksa mama Caroline berangkat sendiri ke pasar. Dengan kacamata hitam mama Caroline memasuki mobil dan langsung tancap gas. Meskipun usia mamanya terpaut hampir kepala empat, namun dia terlihat awet muda dan modis.
          Mama Caroline segera memarkirkan mobilnya dan langsung masuk ke pasar. Pasar disana tidak seperti pasar-pasar lainnya yang jorok dan penuh dengan lalat. Kebersihan disana memang terjaga layaknya seperti supermarket. Mama sibuk memilih-milih sayuran yang segar dan bagus. Akhirnya mama menemukan sayuran yang pas. Dilihatnya penjual sayuran itu seorang laki-laki muda yang sedang sibuk membereskan sayuran.
“Mas, brokoli ini satu kilonya berapa?”
“Oh brokoli bu? Itu satu kilonya harganya sepu..... “ laki-laki muda itu menoleh ke arah mama Caroline, belum juga dia membereskan pembicaraannya dia langsung terkejut.
“Ehh, tante?”
“Dimas? Loh ko kamu...?”
Dilihatnya Dimas yang sedang membantu orang tuanya di pasar berdagang. Ketika tahu pelanggan itu adalah mama Caroline, Dimas langsung gugup dan bicaranya mulai tergagap-gagap. Dimas bingung karena kejadian itu diluar dugaan. Dia berbisik dalam hati bahwa akan tamat riwayatnya. Ayah dan Ibu Dimas pun datang menghampiri dagangan mereka untuk mengecek.
“Dimas ada apa? ko sepertinya Ibu lihat kamu gugup begitu?” tanya Ibu Dimas.
“Oh, jadi Dimas ini anakmu?” sahut mama Caroline.
Ibu Dimas langsung menoleh ke arah mama Caroline, dan melihat mama Caroline sepertinya sudah tidak asing lagi baginya.
“Eh, ternyata kau muncul lagi.” Ucap Ibu Dimas
“Tante ga nyangka ya, ternyata kamu sudah membohongi tante.” Mama Caroline sangat kecewa kepada Dimas. Apalagi dia tahu bahwa orangtua Dimas adalah musuhnya di masa lalu.
          Dulu ketika mama Caroline masih muda, dia sempat pacaran dengan ayahnya Dimas. Mama Caroline dan ibu Dimas dulu memang sahabat. Namun persahabatan mereka hancur karena seorang laki-laki, yaitu ayah Dimas. Karena setiap kemana-mana selalu bertiga, dibalik sifat pendiamnya itu ternyata ibu Dimas sangat menyukai ayah Dimas. Begitu juga sebaliknya dengan ayah Dimas. Dan pada akhirnya dibelakang mama Caroline mereka berpacaran tanpa mama Caroline tahu. Karena dulu mama Caroline selalu sibuk sendiri dengan karirnya, ayah Dimas sering diabaikan olehnya. Sehingga pada akhirnya mereka bermain dibelakang. Mama Caroline sangat terkejut ketika salah satu temannya berkata bahwa banyak gosip Ibu Dimas dan ayah Dimas berpacaran. Sejak saat itu mama Caroline sakit hati, dan ketika diminta penjelasan dari mereka ternyata benar bahwa mereka sudah pacaran. Dari sanalah mama Caroline mulai menghindar dan tak mau kenal lagi dengan mereka. Tetapi pada akhirnya mama Caroline menemukan jodoh yang tepat yaitu papa Caroline yang lebih segala-galanya dari ayah Dimas.
“Mulai saat ini kamu jauhi anak tante!”
“Hey, yang ada anakmu tuh yang suka deketinDimas!”
Mama Caroline dan Ibu Dimas saling beradu mulut. Ayah Dimas dan Dimas mencoba memisahkan mereka berdua. Sesekali orang yang lewat melihat dan mendengar yang dibicarakan oleh mereka. Karena ayah Dimas berhasil memisahkan mereka, akhirnya mama Caroline pun pulang kerumah dengan ekspresi kesal.
          Dimas mencoba menhubungi Caroline tentang kejadian tadi. Mereka pun langsung bertemu ditempat biasa mereka janjian. Mereka berdua memikirkan bagaimana agar mereka tetap bersama.
“Ah, aku punya ide. Gimana kalo kita backstreet?” sahut Dimas
“Hmm, boleh juga tuh. Tapi kalo misalnya tetep ketahuan gimana?”
“Ya kita pikirkan nanti, pokonya gimana nanti aja lah”
Sifat Dimas memang seperti itu, tidak pernah memikirkan resikonya seperti apa.
          Saat pulang habis bertemu Dimas, Caroline langsung diomeli mamanya. Dan menyuruhnya untuk tidak berteman lagi dengan Dimas. Namun karena Caroline cinta kepada Dimas, didalam hatinya Caroline berkata tidak akan menuruti perintah mamanya. Begitu juga dengan Dimas, orangtua Dimas tidak setuju apabila Dimas berpacaran dengan Caroline. Namun dalam hatinya membantah, bahwa dia akan tetap menjadi pacar Caroline.
          Satu tahun kemudian, Caroline dan Dimas berhasil menjalani hubungannya dengan backstreet. Saat itu, Caroline sudah lulus sekolah. Suatu hari, mama Caroline membawa seorang laki-laki muda tampan. Ternyata laki-laki itu diperkenalkan kepada Caroline. Laki-laki itu memang tipe orangtuanya Caroline, selain tampan dia sangat mapan. Dan orangtua Caroline berencana menjodohkan Caroline dengan laki-laki itu. laki-laki tersebut bernama Aldo. Aldo merupakan anak dari rekan kerja papanya Caroline. Tapi, Caroline selalu menolak dijodohkan dengan Aldo. Kadang Aldo suka diajak jalan-jalan oleh Caroline, namun itupun terpaksa karena disuruh oleh mamanya. Aldo orangnya memang sangat baik kepada Caroline. Tapi Caroline selalu biasa saja, malah terkadang dia suka bertindak aneh agar Aldo tidak terpesona kepada Caroline.
          Semakin hari Caroline semakin tidak tahan diam dirumah. Hidupnya selalu diatur-atur oleh mamanya. Memang itu semua untuk kebaikan Caroline ke depannya. Namun dia justru tidak tahan dengan sifat mamanya yang egois. Caroline tak sengaja mendengar pembicaraan mama dan orangtuanya Aldo. Mereka berencana bahwa tiga hari lagi Caroline dan Aldo akan dinikahkan. Setelah mendengar kabar buruk itu, Caroline segera menghubungi Dimas. Dan mereka berencana akan kabur dari rumah.
          Keesokan harinya, mama Caroline menuju kamar Caroline dan didapatinya Caroline sudah tidak ada dirumah. Mamanya langsung panik dan segera menyuruh anak buahnya untuk mencari Caroline. Namun saat itu, mereka berdua tak ditemukan. Mama Caroline berusaha mencari ke rumah orangtua Dimas. Tetapi sama saja, malah Dimas juga pergi dari rumah.
          Caroline dan Dimas entah pergi kemana, karena Caroline mempunyai sisa uang di atm, akhirnya mereka memilih pergi keluar kota. Disana mereka memulai hidup baru, cinta mereka tak direstui oleh orangtuanya masing-masing. Dan pada akhirnya mereka pun  menikah sirih. Caroline memang hatinya sangat setia dan selalu menerima Dimas apa adanya, ketika dia melihat orang lain menikah dengan pria yang mapan dan penuh fasilitas, tapi Caroline justru akan mendampingi Dimas sampai dia mapan, dan menikmati kebahagiaan disetiap prosesnya.






Tamat