Suatu
hari terdapat seorang wanita cantik bernama Caroline. Dia merupakan turunan
dari orang kaya. Perusahaan orangtuanya sudah berada dimana-mana. Bahkan
karyawannya pun sudah tak terhitung jumlahnya. Caroline sangat dimanja oleh
kedua orang tuanya. Meskipun dia merupakan anak kedua dari dua bersaudara, tak
heran bila keinginannya selalu dipenuhi karena dia anak bungsu. Kakak Caroline
adalah seorang laki-laki yang tampan. Dia bernama Anggara. Usia Anggara tidak
berbeda jauh dengan Caroline. Mungkin sekitar berbeda 5 tahun. Dan sekarang
Caroline baru berusia 16 tahun. Meskipun dia adalah anak dari orang kaya,
tetapi dia tidak bersekolah di sekolah elite. Melainkan bersekolah disekolah
yang sederhana dengan murid-murid yang berpenampilan sederhana juga.
Pada suatu hari, Caroline berangkat ke sekolah. Dia selalu
diantar oleh papanya sekalian langsung berangkat ke kantor. Di sekolahnya,
Caroline memang selalu menjadi pusat perhatian para lelaki. Maka tak aneh
apabila Caroline banyak fansnya. Namun tak sedikit juga ada orang yang menjadi
haters Caroline. Dan kebanyakan haters tersebut berasal dari kaum wanita. Ya
mungkin mereka sangat sirik kepada wanita cantik itu. Dilihat dari
penampilannya Caroline memang sangat modis. Kadang setiap seminggu sekali
Caroline selalu pergi ke salon bersama mamanya. Tetapi dibalik itu semua
sifatnya Caroline terlihat pendiam. Namun apabila yang sudah akrab dengannya
Caroline orangnya sangat cerewet. Memang dia selalu membuat penasaran orang
saja. Disekolahnya dia merupakan murid yang cerdas, tapi tidak terlalu cerdas.
Ya sedang sedang saja mungkin. Setiap tugas yang diberikan oleh gurunya dia
selalu mengumpulkannya tepat waktu.
Saat pulang sekolah, tiba-tiba Caroline tidak ada yang
menjemput. Terpaksa dia harus menaiki transportasi umum. Dan itu adalah hal
sangat menjengkelkan bagi Caroline. Karena dia sangat tidak suka dengan polusi
udara yang kotor apalagi panasnya udara yang ada didalam bus. Hampir satu jam
Caroline menunggu di halte bus. Dan mood Caroline sudah mulai berbeda. Tiba-tiba
datanglah seorang laki-laki sederhana yang terlihat lumayan tampan dengan
kendaraan motor vespa antiknya. Dia melihat Caroline dari jauh dan langsung
mendekatinya. Dan sepertinya laki-laki itu merupakan murid dari sekolahyang
sama dengan Caroline.
“Hai, kamu lagi
ngapain?” tanya laki-laki itu.
“Keliatannya lagi
ngapain? Masa lagi nyuci baju”. Jawab Caroline dengan dingin.
“Oh, mau anter aku
pulang ga?”
“Mmm, boleh deh
daripada nunggu lama disini daritadi”.
Tanpa berpikir panjang
Caroline pun menerima tawaran dari laki-laki tersebut. Padahal Caroline sendiri
tidak kenal dengan orang itu. Namun, Caroline percaya dengan laki-laki itu
karena melihat logo seragam yang sama dengan Caroline. Diperjalanan mereka
berdua akhirnya asyik mengobrol.
“Kamu anak SMAN 1
juga?” tanya Caroline.
“Keliatannya anak mana?
Masa anak monyet” jawab laki-laki itu dengan nada bercanda.
“Ihh, nyebelin banget
sih! Kayanya bales dendam gara-gara tadi nih”.
“Hehehe, engga ko
bercanda.. eh iya ngomong-ngomong kita belum kenalan, nama kamu siapa?”
“Namaku Caroline, nama
kamu?”
“Aku Dimas, tapi jangan
panggil aku mas ya..”
“Lah emang kenapa kalo
panggil mas?”
“Soalnya nanti aku
dikira mas tukang baso lagi”
“Hahahaha... garing !”
ucap Caroline sambil tertawa.
“Nah loh, garing tapi
ko ketawa?”
“Terserah gue dong “
“Ah kamu nih bercanda
aja...”
Diperjalanan mereka
berdua asyik bercanda, dan sampai akhirnya Dimas sampai didepan rumah Caroline.
Dengan basa-basi Caroline mengajak Dimas mampir ke rumahnya dulu. Namun Dimas
menolaknya karena harus buru-buru pulang kerumah.
Sampai dirumah Caroline langsung masuk kedalam kamar dan
beristirahat di kasurnya yang empuk. Sambil dia membayangkan sosok lelaki yang
sudah mengantarkannya sampai rumah. Dan tak sadar dia sampai berbicara sendiri.
“Cowo yang tadi tuh ya
kalo dipikir-pikir ganteng juga, lucu lagi, kayanya dia tuh orangnya humoris,
pas banget kalo aku lagi sedih bisa dihibur sama dia.”
Disaat Caroline sedang
membayangkan tiba-tiba teriakan mamanya mengganggu bayangan Caroline. Sontak
Caroline langsung kaget karena telah diganggu oleh teriakan mamanya. Dan
ternyata mamanya hanya menyuruh Caroline untuk makan.
Saat malam tiba, sudah tak aneh Caroline melihat kakaknya
yang bernama Anggara setiap malam sibuk dengan skripsinya. Dan terkadang Anggara
selalu begadang hanya untuk mengerjakan tugas akhirnya itu. Karena bulan Juni
ini Anggara akan wisuda. Mamanya berharap kalau Caroline nanti sudah lulus
sekolah akan seperti Anggara. Anggara selain lelaki yang tampan, dia juga
sangat pintar. Maka tak salah apabila dia masuk fakultas ilmu pemerintahan di
salah satu universitas negeri disana. Kalau masalah percintaannya terkadang
suka tertutup. Maka jarang sekali Anggara bercerita kepada Caroline. Sebaliknya
juga dengan Caroline. Terkadang suatu ketika Caroline suka berpikir ingin
mempunyai seorang kakak perempuan. Karena Caroline ingin sekali menyurahkan
hatinya kepada kakaknya. Sekali-kali
Caroline juga suka curhat kepada mamanya, namun terkadang mamanya itu yang ada
selalu mengatur-ngatur Caroline. Jadi jika Caroline ingin curhat lagi terkadang
menjadi canggung.
Malam itu Caroline duduk santai dengan tv didepannya.
Tiba-tiba handphonenya pun berbunyi dan dilihat ada sms dari nomor yang tak
dikenalnya. Isi sms tersebut isinya tidak penting, hanya ingin berkenalan saja.
Dan Caroline pun tidak membalas sms tersebut. Caroline pun pergi ke kamar mandi
karena cuaca sangat dingin sehingga dia ingin buang air kecil. Dan ketika
kembali lagi, tiba-tiba dilihat handphonenya sudah ada 3 panggilan tak
terjawab. Dilihatnya ternyata nomor yang tadi sms Caroline. Setelah
ditunggu-tunggu lagi, ternyata nomor tersebut tidak menelpon lagi.
Keesokan harinya disekolah, saat Caroline memasuki ruang
kelas tiba-tiba ada yang memanggil Caroline. Dan ternyata dia adalah Dimas.
Dengan muka yang sedikit bete Dimas pun menghampiri Caroline.
“Hey, kenapa mukamu
keliatan kusem kaya gitu?” tanya Caroline.
“Bete banget sama kamu
tau “
“Hah? Ko sama aku sih? Emang
aku punya salah sama kamu?”
“Iya, kemarin aku sms
kamu terus sama kamu ga dibales! Ehh, pas aku nelpon ga diangkat-angkat, malah
sampe 3 kali aku nelpon” ucap Dimas dengan raut wajah yang kecewa.
“Ohh, jadi yang kemarin
itu kamu toh? Hahaha ya maaf deh, aku gatau” jawab Caroline dengan polosnya.
“Ga tau ahh, aku mau
pundung ga di maafin”
“Dih sebel gitu , mana
ada cowo pundungan kaya cewe aja nih hahaha”
“Ya abisnya kamu kaya
gitu sih”
Dan pada akhirnya
Caroline pun menjelaskan semuanya kepada Dimas. Dan akhirnya mereka pun damai
kembali. Tiba-tiba Dimas pun mengajak Caroline ke taman sekolah karena Dimas
ingin berbincang-bincang bersama Caroline. Seperti biasa, Dimas selalu membuat
tertawa Caroline dengan sikapnya yang konyol itu. Caroline baru sadar ternyata
Dimas itu adalah kakak kelasnya. Kini Dimas kelas 3 SMA dan sebentar lagi dia
akan lulus.
Pulang sekolah, Dimas sudah siap-siap dengan vespanya yang
antik itu. Dia sedang menunggu Caroline. Akhirnya Caroline pun sudah bubar dan
langsung menghampiri Dimas. Tiba-tiba Dimas mengajak Caroline pergi menonton. Akhirnya
merekapun pergi bersama. Dimas orangnya memang sederhana dan misterius. Bahkan
Caroline pun tak tahu latar belakang dia bagaimana. Ya mungkin karena Caroline
belum kenal terlalu dekat.
Ketika akan memasuki gedung bioskop tiba-tiba Caroline
bertemu dengan teman sebangkunya yang bernama Memey. Memey juga pergi dengan
salah satu lelaki, namun lelaki itu pacarnya Memey. Dan ketika Memey melihat
lelaki disamping Caroline itu tiba-tiba dia kaget. Dan Memey pun langsung
membisiki Caroline sambil bertanya.
“Kamu ga salah pergi
sama dia?” tanya Memey.
“Lah emang kenapa kalo
aku pergi sama dia? Kamu cemburu ya, apa jangan-jangan kamu suka lagi, hayo
ngaku” jawab Caroline sambil berbisik-bisik.
“Ih apaan ngapain
cemburu, aku juga punya cowo kali, yaudah nanti besok aku ceritain deh sama
kamu”
“Yaudah oke fix!”
Setelah mereka
berpapasan akhirnya Caroline dan Memey pun berpisah. Ketika Caroline dan Dimas
sedang mengantri tiket, tiba-tiba Dimas lupa membawa uang lebih. Dan dengan
polosnya Dimas berkata kepada Caroline bahwa dia ingin meminjam uang dulu
kepada Caroline. Saat itu adalah saat yang paling memalukan bagi Dimas, karena
dengan apesnya Dimas lupa membawa uang lebih. Namun karena Caroline sangat baik
dia ikhlas meminjamkan uangnya tanpa harus diminta ganti. Ya itung-itung
menraktir Dimas.
Mereka berdua asyik menonton film horor yang pada saat itu
sedang hits yaitu film “Insidious”. Filmnya memang sangat menegangkan. Namun
pada saat itulah Dimas memanfaatkan moment tersebut. Caroline memang tipe cewe
yang agak penakut. Maka sekali-kali ketika ada adegan yang menegangkan dia
selalu bersembunyi dibalik bahu Dimas dan mencengkram erat tangan Dimas. Dimas
hanya tertawa kecil melihat Caroline ketakutan. Kadang-kadang Caroline juga
terlihat marah karena moment tersebut adalah kesempatan bagi Dimas. Mereka
berdua memang selayaknya seperti adik dan kakak. Setiap hari mereka terlihat
sering bertengkar tapi beberapa saat pun damai lagi. Makanya banyak sekali
lelaki yang iri dengan Dimas ketika bersama dengan Caroline. Padahal banyak
lelaki yang lebih dari Dimas. Namun entah apa yang ada dibenaknya Caroline
untuk lebih memilih Dimas.
Film bioskop pun telah usai. Mereka berdua segera keluar
dari gedung bioskop. Tiba-tiba Dimas menarik Caroline dan cepat-cepat menuju ke
parkiran menaiki vespa antiknya itu. Sambil menuju ke arah yang tak jelas
tujuannya, Dimas sengaja menutupi mata Caroline dengan kain bermotif batik yang
kadang suka dipakai shall oleh Dimas. Caroline pun bingung dia akan dibawa
kemana dan ingin membuka kain yang menutupi matanya itu. Namun Dimas melarang
untuk membukanya.
Tercium aroma kesegaran, terdengar bunyi-bunyi kicauan
burung yang sangat indah. Namun masih saja Caroline tidak bisa melihat suasananya
seperti apa. Dimas pun segera memapahkan Caroline ke tempat duduk. Dan
dibukanya kain penutup mata tersebut. Dilihatnya sebuah taman yang sangat
indah, dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan kolam dengan air mancur. Sepertinya
taman tersebut tidak banyak dikunjungi orang. Seperti taman milik mereka berdua
saja. Caroline bahkan tak tahu dan baru pertama kali mengunjungi taman itu.
Ditengah-tengah kota Jakarta yang begitu pengap dan berpolusi, namun bisa
terobati dengan udara taman yang begitu sejuk itu. Dimas memang paling pintar
memilih tempat yang pas untuk merefreshkan otak.
Dibalik sifatnya yang cuek dan senang bercanda, Dimas
tiba-tiba berubah menjadi seorang yang romantis. Ketika sampai disana dan duduk
berdua, Dimas memang masih sempat bercanda dengan gombalan-gombalan klasiknya
itu. Namun disaat serius, Dimas tanpa basa-basi mengungkapkan isi hatinya
kepada Caroline.
“Caroline, kalo boleh
jujur sebenernya aku tuh suka sama kamu bahkan sayang, tapi rasa sayang ini
berbeda. Bukan rasa sayang sebagai teman ataupun sebagai adik. Tapiiiii...”
“Tapi apa?”
Dan dengan to the point
Dimas pun berkata. “Aku jatuh cinta sama kamu, kamu mau kan jadi pendamping
hidup aku?”
“Haaah?
Pendamping hidup? Hahaha... jangan banyak bercanda deh lo, ini pasti
akal-akalan bodoh kamu lagi, kebanyakan nonton sinetron sih! Lebay kan jadinya”
“Caroline
aku serius!” ucap Dimas dengan nada tegas.
“Kamu
seriusan? Ga bercanda?”
“Emang
muka aku keliatan muka bercanda?” sambil mengangkatkan sebelah halisnya dan
matanya pun sangat tajam menatap Caroline.
“Mmmm..
engga sih. Duh aku bingung harus jawab apa” Caroline mulai gugup dan salah
tingkah.
“Ga
usah bingung, tinggal jawab iya apa engga! Ikuti apa kata hati kamu aja”
“Hati
aku sih bilang iya aku juga cinta..”
“Jadi?”
“Ya
apa boleh buat, aku ikuti kata hati aku aja. Kan kamu bilang begitu”
Dimas
pun berpikir keras dan tanpa disadari Caroline telah menerima cintanya Dimas.
Dimas pertama kali merasakan bahagia yang begitu luarbiasa. Dia tak menyangka
bahwa Caroline akan menerima cintanya. Mulai saat itulah akhirnya mereka
jadian. Kini hari-hari mereka akan menjadi lebih indah. Karena kini mereka
mempunyai status baru.
Esoknya
pada saat disekolah. Memey ingat dengan janjinya bahwa dia akan menceritakan
seuatu kepada Caroline.
“Eh Mey, kemaren mau
ngomong apa sih? Bikin penasaran aja”
“Oh iya itu tentang
Dimas, tau ga sih lo? Dimas tuh ternyata cuman anak tukang dagang sayuran
dipasar doang”
“Ya terus kenapa?”
tanya Caroline dengan wajah sinis.
“Yaelah, kamu kaya yang
gak tahu orang tua kamu aja, ya pasti mereka ga akan setuju lah kamu deket sama
dia. Secara gitu orang tua kamu pasti nyariin cowo buat kamu itu yang mapan,
yang bermobil, yang banyak duitnya. Apalagi kalo kamu sampe pacaran,meskipun
tampang dia emang ganteng tapi engga bangetlah”
“Terus kalo misalnya
emang beneran udah pacaran gimana?”
“What? Seriusan lo udah
pacaran? Aduh.. apa kata dunia? Fans-fans kamu nanti pada kecewa, terus nanti
ga akan ngefans lagi sama kamu, terus aku ga jadi ikutan terkenal lagi
disekolah ini. Aduuuhh...”
Memey orangnya memang
lebay. Selain dia baik, namun dia setia kawan kepada Caroline. Setiap senang
maupun sedih, Memey selalu ada untuk Caroline. Meskipun terkadang Memey bingung
memlilih antara sahabat dan pacar, tapi dia paling pintar membagi waktunya
antara sahabat dan pacar. Selain itu juga Memey orangnya sangat dewasa dalam
berpikiran.
“Udah lah Mey, ga usah
khawatir. Ini adalah pilihanku. Masalah senang atau susah itu gimana nanti,
karena ini udah resiko.”
“Yaudah oke fix, Memey
sekarang ngerti. Bukan maksud aku buat ngatur-ngatur kamu ko, tapi aku cuma
ngingetin aja, takutnya orang tua kamu begitu kan. Aku sih setuju aja kamu mau
pacaran sama siapapun, itu hak kamu. Dan aku pasti dukung terus.”
“Iya sih mey, tapi
terimakasih banyak ya. Kamu udah ngertiin aku”
Mendengar nasihat dari Memey, Caroline pun menjadi bingung.
Dan dia berpikir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Memey. Akhirnya Caroline
pun membicarakan masalah itu dengan Dimas. Dimas juga mengerti dan tahu benar
tentang keluarga Caroline. Oleh karena itu akhirnya Dimas memilih berpura-pura
menjadi tipe orang yang diinginkan orang tua Caroline. Ya, berpua-pura menjadi
anak orang kaya.
Sebelumnya Caroline belum pernah mengajak Dimas ke
rumahnya. Dan pada suatu hari, Caroline pun mengajak Dimas ke rumahnya. Orang
tua Caroline memang sangat ramah kepada siapapun. Namun ya begitulah, orang tua
Caroline sangat material. Seperti biasa, Dimas menaiki vespa antiknya itu.
Dengan heran, mama Caroline bertanya-tanya mengapa dia menaiki vespa butut itu?
Mengapa tidak menaiki mobil? Tetapi, ada saja alasan dari Dimas, dia menjawab
bahwa dia memang suka mengoleksi barang-barang antik yang mahal, dan dia juga
bosan menaiki mobil mewah. Mama Caroline percaya-percaya saja, karena tampang
muka Dimas itu memang meyakinkan anak orang kaya.
Semakin hari, Dimas dan Caroline semakin romantis.
Kedekatan Dimas dan keluarga Caroline pun semakin akrab. Begitu juga dengan
Caroline, dia juga akrab dengan keluarga Dimas. Saat itu, Dimas sudah lulus
sekolah. Dan Caroline kini menginjak kelas 3 SMA. Setelah lulus, Dimas tidak
melanjutkan kemana-mana. Karena orang tuanya tidak mempunyai biaya, akhirnya
Dimas pun lebih memilih berdiam diri saja, tapi terkadang membantu orang tuanya
juga dipasar. Meskipun dengan keadaan Dimas seperti itu, Caroline tetap
menerima Dimas apa adanya.
Saat itu Anggara sudah lulus kuliah, dan dia menikah dengan
seorang istri yang cantik yang dulu dia suka saat dikampus. Kini mereka hidup
bahagia dan tinggal di Amerika karena Anggara harus melanjutkan S2 disana
bersama istrinya. Mama Caroline selalu berharap Caroline bisa seperti kakaknya.
Setahu mamanya, Dimas sekarang ini bekerja di perusahaan milik papanya. Padahal
semua itu hanya rekayasaan Dimas dan Caroline.
Dicuaca yang sangat panas, mama Caroline ingin sekali makan
sayuran yang segar. Sayangnya pada saat itu, pembantu dirumahnya sedang pulang
kampung. Terpaksa mama Caroline berangkat sendiri ke pasar. Dengan kacamata
hitam mama Caroline memasuki mobil dan langsung tancap gas. Meskipun usia
mamanya terpaut hampir kepala empat, namun dia terlihat awet muda dan modis.
Mama Caroline segera memarkirkan mobilnya dan langsung
masuk ke pasar. Pasar disana tidak seperti pasar-pasar lainnya yang jorok dan
penuh dengan lalat. Kebersihan disana memang terjaga layaknya seperti
supermarket. Mama sibuk memilih-milih sayuran yang segar dan bagus. Akhirnya
mama menemukan sayuran yang pas. Dilihatnya penjual sayuran itu seorang
laki-laki muda yang sedang sibuk membereskan sayuran.
“Mas, brokoli ini satu
kilonya berapa?”
“Oh brokoli bu? Itu
satu kilonya harganya sepu..... “ laki-laki muda itu menoleh ke arah mama
Caroline, belum juga dia membereskan pembicaraannya dia langsung terkejut.
“Ehh, tante?”
“Dimas? Loh ko
kamu...?”
Dilihatnya Dimas yang
sedang membantu orang tuanya di pasar berdagang. Ketika tahu pelanggan itu
adalah mama Caroline, Dimas langsung gugup dan bicaranya mulai tergagap-gagap.
Dimas bingung karena kejadian itu diluar dugaan. Dia berbisik dalam hati bahwa
akan tamat riwayatnya. Ayah dan Ibu Dimas pun datang menghampiri dagangan
mereka untuk mengecek.
“Dimas ada apa? ko
sepertinya Ibu lihat kamu gugup begitu?” tanya Ibu Dimas.
“Oh, jadi Dimas ini
anakmu?” sahut mama Caroline.
Ibu Dimas langsung
menoleh ke arah mama Caroline, dan melihat mama Caroline sepertinya sudah tidak
asing lagi baginya.
“Eh, ternyata kau
muncul lagi.” Ucap Ibu Dimas
“Tante ga nyangka ya,
ternyata kamu sudah membohongi tante.” Mama Caroline sangat kecewa kepada
Dimas. Apalagi dia tahu bahwa orangtua Dimas adalah musuhnya di masa lalu.
Dulu ketika mama Caroline masih muda, dia sempat pacaran
dengan ayahnya Dimas. Mama Caroline dan ibu Dimas dulu memang sahabat. Namun
persahabatan mereka hancur karena seorang laki-laki, yaitu ayah Dimas. Karena
setiap kemana-mana selalu bertiga, dibalik sifat pendiamnya itu ternyata ibu
Dimas sangat menyukai ayah Dimas. Begitu juga sebaliknya dengan ayah Dimas. Dan
pada akhirnya dibelakang mama Caroline mereka berpacaran tanpa mama Caroline
tahu. Karena dulu mama Caroline selalu sibuk sendiri dengan karirnya, ayah
Dimas sering diabaikan olehnya. Sehingga pada akhirnya mereka bermain
dibelakang. Mama Caroline sangat terkejut ketika salah satu temannya berkata
bahwa banyak gosip Ibu Dimas dan ayah Dimas berpacaran. Sejak saat itu mama
Caroline sakit hati, dan ketika diminta penjelasan dari mereka ternyata benar
bahwa mereka sudah pacaran. Dari sanalah mama Caroline mulai menghindar dan tak
mau kenal lagi dengan mereka. Tetapi pada akhirnya mama Caroline menemukan
jodoh yang tepat yaitu papa Caroline yang lebih segala-galanya dari ayah Dimas.
“Mulai saat ini kamu
jauhi anak tante!”
“Hey, yang ada anakmu
tuh yang suka deketinDimas!”
Mama Caroline dan Ibu
Dimas saling beradu mulut. Ayah Dimas dan Dimas mencoba memisahkan mereka
berdua. Sesekali orang yang lewat melihat dan mendengar yang dibicarakan oleh
mereka. Karena ayah Dimas berhasil memisahkan mereka, akhirnya mama Caroline
pun pulang kerumah dengan ekspresi kesal.
Dimas mencoba menhubungi Caroline tentang kejadian tadi.
Mereka pun langsung bertemu ditempat biasa mereka janjian. Mereka berdua
memikirkan bagaimana agar mereka tetap bersama.
“Ah, aku punya ide.
Gimana kalo kita backstreet?” sahut Dimas
“Hmm, boleh juga tuh.
Tapi kalo misalnya tetep ketahuan gimana?”
“Ya kita pikirkan
nanti, pokonya gimana nanti aja lah”
Sifat Dimas memang
seperti itu, tidak pernah memikirkan resikonya seperti apa.
Saat pulang habis bertemu Dimas, Caroline langsung diomeli
mamanya. Dan menyuruhnya untuk tidak berteman lagi dengan Dimas. Namun karena
Caroline cinta kepada Dimas, didalam hatinya Caroline berkata tidak akan
menuruti perintah mamanya. Begitu juga dengan Dimas, orangtua Dimas tidak
setuju apabila Dimas berpacaran dengan Caroline. Namun dalam hatinya membantah,
bahwa dia akan tetap menjadi pacar Caroline.
Satu tahun kemudian, Caroline dan Dimas berhasil menjalani
hubungannya dengan backstreet. Saat itu, Caroline sudah lulus sekolah. Suatu
hari, mama Caroline membawa seorang laki-laki muda tampan. Ternyata laki-laki
itu diperkenalkan kepada Caroline. Laki-laki itu memang tipe orangtuanya
Caroline, selain tampan dia sangat mapan. Dan orangtua Caroline berencana
menjodohkan Caroline dengan laki-laki itu. laki-laki tersebut bernama Aldo.
Aldo merupakan anak dari rekan kerja papanya Caroline. Tapi, Caroline selalu
menolak dijodohkan dengan Aldo. Kadang Aldo suka diajak jalan-jalan oleh
Caroline, namun itupun terpaksa karena disuruh oleh mamanya. Aldo orangnya
memang sangat baik kepada Caroline. Tapi Caroline selalu biasa saja, malah
terkadang dia suka bertindak aneh agar Aldo tidak terpesona kepada Caroline.
Semakin hari Caroline semakin tidak tahan diam dirumah.
Hidupnya selalu diatur-atur oleh mamanya. Memang itu semua untuk kebaikan
Caroline ke depannya. Namun dia justru tidak tahan dengan sifat mamanya yang
egois. Caroline tak sengaja mendengar pembicaraan mama dan orangtuanya Aldo.
Mereka berencana bahwa tiga hari lagi Caroline dan Aldo akan dinikahkan.
Setelah mendengar kabar buruk itu, Caroline segera menghubungi Dimas. Dan
mereka berencana akan kabur dari rumah.
Keesokan harinya, mama Caroline menuju kamar Caroline dan
didapatinya Caroline sudah tidak ada dirumah. Mamanya langsung panik dan segera
menyuruh anak buahnya untuk mencari Caroline. Namun saat itu, mereka berdua tak
ditemukan. Mama Caroline berusaha mencari ke rumah orangtua Dimas. Tetapi sama
saja, malah Dimas juga pergi dari rumah.
Caroline dan Dimas entah pergi kemana, karena Caroline
mempunyai sisa uang di atm, akhirnya mereka memilih pergi keluar kota. Disana
mereka memulai hidup baru, cinta mereka tak direstui oleh orangtuanya
masing-masing. Dan pada akhirnya mereka pun
menikah sirih. Caroline memang hatinya sangat setia dan selalu menerima
Dimas apa adanya, ketika dia melihat orang lain menikah dengan pria yang mapan
dan penuh fasilitas, tapi Caroline justru akan mendampingi Dimas sampai dia
mapan, dan menikmati kebahagiaan disetiap prosesnya.
Tamat